~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~

Jumat, 30 November 2012

Guru...

GURU = digugu lan ditiru.guru adalah pengganti orang tua di sekolah. yang menjadi penanggung jawab diri kita ketika di sekolah. yang mau membagi ilmu mereka pada kita :-)

Rabu, 14 November 2012

Minggu, 28 Oktober 2012

An Article About Parents


Papa…
Sosok yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Yang bertanggungjawab penuh pada istri dan anak-anaknya. Yang selalu bersikap jantan, gagah, dan berani mengambil risiko besar untuk memperjuangkan keluarganya agar tetap utuh dan bahagia. Yang selalu membela istri dan anak-anaknya ketika difitnah dan dituduh oleh orang lain. Yang mau melakukan apapun demi istri dan anak-anaknya asalkan mereka nyaman dalam peluknya. Yang selalu meluangkan waktunya untuk istri dan anak-anaknya. Yang mau bersusah payah membanting tulang dari pagi hingga sore bahkan sampai malam demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas. Yang rela berkorban untuk keselamatan istri dan anak-anaknya meskipun yang harus jadi taruhannya adalah nyawanya sendiri. Yang mau menanggung malu ketika istri dan anak-anaknya berbuat salah pada orang lain. Yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan istri dan anak-anaknya. Dan…masih banyak lagi kelebihan papa di mataku.
Ketika aku berbuat salah, ia marah. Tapi ia selalu mau memaafkan aku. Ketika aku sakit, ia merawat dan membelikanku obat agar aku cepat sembuh. Ketika aku bahagia, ia bertanya, “apa yang membuatmu bahagia?”, lalu aku menjawab, “karena seharian ini aku melihat papa di rumah”. Ia pun tersenyum. Ketika aku bersedih dan menangis, ia bertanya, “mengapa kau bersedih dan menangis?”, lalu aku menjawab, “mengapa papa mau menerimaku? padahal aku banyak berbuat salah dan sering membuat papa sakit hati hingga papa marah..”. papa hanya tersenyum dan berkata, “karena kau anakku”. Kupeluk erat tubuhnya. Ketika aku meminta uang untuk membayar uang sekolah, seketika itu juga papa menundukkan kepala dan berkata, “kalau papa bayar besok saja bagaimana? papa sedang tak ada uang”. Aku mengerti. Lalu aku tersenyum dan kujawab, “iya tak apa-apa, pa”. ketika aku terjatuh, ia adalah orang pertama yang panik dan khawatir. Lalu ia memegang erat tanganku dan membantuku untuk bangkit. Ketika aku pergi jauh untuk beberapa hari, ia selalu mengirim pesan singkat bahkan meneleponku hanya untuk menanyakan “sedang apa? sampai dimana? sudah makan? jangan lupa berdo’a ya… Tuhan memberkati”. Ketika aku terpuruk, ia selalu memberiku motivasi agar aku mau bangkit dan tegar menghadapi setiap persoalan. Ia selalu berkata, “ingat, kau masih punya Tuhan. DIA akan selalu mendengar semua keluhanmu”.
Ketika mama sakit, papa yang harus bingung mencari uang kemana agar mama dapat sembuh dan sehat lagi. Ketika mama marah, papa selalu berusaha untuk menenangkan hati mama. Papa tak pernah punya niat untuk melukai hati mama sedikitpun. Ketika mama benar-benar harus dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya hingga masuk ruang ICU, papa selalu bersedia untuk menemaninya. Papa tak pernah punya niat untuk meninggalkan mama. Ia setia menemani dan menunggu mama hingga sembuh. Meskipun mama sering membuat papa jengkel, tapi papa selalu memaafkan dan mengampuni mama. Papa selalu menyayangi, mencintai dan mengasihi mama. Bagi papa, mama adalah wanita yang sempurna, cinta mama pada papa begitu sempurna.
Mama…
Wanita yang selalu bisa membuat papa bahagia dan nyaman di dekatnya. Wanita nomor satu di hati papa. Wanita yang menjadi prioritas utama dalam hidup papa.
Namun…
Kini papa hanya bisa mengenang semua tentang kisah cinta mereka… semua tentang mama. Kekasih hatinya yang selalu ia cintai dan sayangi.
Mama pergi…pergi untuk selamanya… meninggalkan papa, aku dan kelima saudara kandungku. Tapi papa tetap tegar dan berusaha menerima kenyataan. Kenyataan bahwa mama, kekasihnya, pergi meninggalkan dia. Itu kehendak Tuhan. Tuhan menyayangi mama, sehingga DIA memanggil mama kembali pada-NYA. Ya… itu memang yang terbaik untuk kami, terlebih untuk mama. Kasihan jika mama hidup di dunia tapi menderita atas penyakitnya. Lebih baik mama pergi dan duduk di samping Allah Bapa di sorga dan melihat suami serta ketujuh anaknya di dunia. Mama tidak pergi jauh karena mama selalu ada di hati kami. Sampai kapanpun. Tuhan tahu apa yang DIA lakukan atas kami. Dan apapun yang DIA lakukan, semua karena DIA mengasihi keluargaku. Terlebih untuk papa :)

Jumat, 14 September 2012

ENERGI ALTERNATIF - BIOGAS

Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradabledalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.
Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kacayang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah. 
BANDUNG: Pemanfaatan energi alternatif seperti biogas di Jawa Barat masih sangat rendah, terutama di kalangan peternak sapi yang populasinya mencapai 27.200 ekor. 
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat Jerry Yanuar mengatakan pemanfaatan potensi biogas di Jabar baru 20% dari potensi yang ada yang dipicu mayoritas peternak sapi masih belum merasa butuh akan penggunaan energi alternatif.

"Kami akan mengajak instansi seperti Dinas Peternakan agar mendorong para peternak mau memanfaatkan limbah kotoran sapi ini sebagai energi alternatif yang bisa menghemat pengeluaran mereka," kata Jerry kepada Bisnis, hari ini.

Menurutnya, pada tahun ini pihaknya menargetkan penambahan pemanfaatan biogas sebanyak 182 unit untuk masyarakat yang menjadi sentra peternakan sapi seperti kawasan Bandung Utara.

Dia menjelaskan setiap dua ekor sapi  bisa menghasilkan 50kg kotoran sapid an bisa menghasilkan satu meter kubik gas pengganti jenset.

Keberadaan energi alternatif menjadi konsekuensi logis mengingat penduduk Jabar saat ini sudah mencapai 43 juta jiwa. Terlebih pada 2025, diprediksi penduduk Jabar akan menjadi 52 juta jiwa dengan 83% diantaranya akan tinggal di perkotaan.

"Itu artinya akan terjadi peningkatan yang tajam di sektor industri dan permukiman sehingga kebutuhan energi alternatif menjadi mendesak," ujarnya.

Secara empiris, Jabar memiliki banyak persoalan energi yang harus dihadapi. Untuk itu, energi berbasis regional dan lokal yang ada di setiap wilayah harus dieksplorasi baik oleh Dinas ESDM maupun lembaga lainnya.

"Kami sudah memetakan potensi biogas yang ada di setiap daerah, serta potensi alam yang bisa dikembangkan mikro hidro dan panas bumi yang membutuhkan investasi tidak sedikit," ujarnya.

Dia menambahkan pihaknya juga berencana memanfaatkan keberadaan septic tank komunal yang menghasilkan tinja manusia dengan gas metan yang tinggi. Pada dasarnya, kotoran sapi dan manusia tidak ada bedanya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia Jawa Barat Dedi Setiadi mengatakan minimnya jumlah petani yang memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas lebih disebabkan terbenturnya dana pengadaan alat untuk pengubah energi kotoran sapi.

Menurut dia, untuk membeli satu alat biogas dengan kapasitas 6 meter kubik petani harus merogoh kocek Rp6,5 juta.

Selain itu, peternak tidak memiliki banyak lahan untuk digunakan sebagai penampung kotoran sapi hingga dikonversi menjadi listrik, untuk kemudian dialirkan ke rumah tangga.

“Pada prinsipnya, kami mendorong petani untuk membuat biogas agar limbah kotoran sapi tidak menjadi sumber pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Sebelumnya, Pemkot Bandung melayangkan protes terkait pencemaran limbah kotoran sapi dan sampah di hulu Sungai Cikapundung yang dijadikan sumber air PDAM Kota Bandung.

PDAM Tirtawening Kota Bandung hingga saat ini masih terkendala dalam mengelola air baku di lokasi penangkap (intake) Bantar Awi, lantaran sampah dan limbah kotoran sapi yang dihasilkan masyarakat dan peternakan di bagian utara Sungai Cikapundung.

Kendala itu terjadi sejak beberapa tahun terakhir dan mengakibatkan menurunnya kualitas air baku yang akan diolah.(api).

Selasa, 21 Agustus 2012

Pahlawan Indonesia



 SAYUTI MELIK


Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti Melik, dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai pengetik naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Dia adalah suami dari Soerastri Karma Trimurti, seorang wartawati dan aktifis perempuan di jaman pergerakan dan jaman setelah kemerdekaan. Dilahirkan pada tanggal 22 November 1908, anak dari Abdul Mu'in alias Partoprawito, bekel jajar atau kepala desa di Sleman, Yogyakarta. Sedang ibunya bernama Sumilah. Pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.
Nasionalisme sudah sejak kecil ditanamkan oleh ayahnya kepada Sayuti kecil. Ketika itu ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.
Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink. Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.
Tulisan-tulisannya mengenai politik menyebabkan ia ditahan berkali-kali oleh Belanda. Pada tahun 1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933). Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun. Setelah diusir dari wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta, dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).
Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan SK Trimurti, dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama. Akhirnya pada 19 Juli 1938 mereka menikah.
Pada tahun itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar. Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.
Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda. Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).
Pada jaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.
Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer. Saat itu Soekarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa. Dan lalu Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram. Sayuti terus berada di sisi Bung Karno
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk 7 Agustus 1945 dan diketuai oleh Ir. Soekarno, menggantikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibubarkan cepat. Anggota awalnya adalah 21 orang. Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah 6 orang termasuk didalamnya Sayuti Melik.
Sayuti Melik termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 (Peristiwa Rengasdengklok). Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang
Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru memproklamasikan kemerdekaanKonsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Wakil para pemuda, Sukarni dan Sayuti Melik. Masing-masing sebagai pembantu Bung Hatta dan Bung Karno, ikut menyaksikan peristiwa tersebut. Setelah selesai, dinihari 17 Agustus 1945, konsep naskah proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin. Namun, para pemuda menolaknya. Naskah proklamasi itu dianggap seperti dibuat oleh Jepang.
Dalam suasana tegang itu, Sayuti memberi gagasan, yakni agar teks proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia. Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat "Wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".
Setelah Indonesia Merdeka ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada tahun 1946 atas perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan Perjuangan serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam "Peristiwa 3 Juli 1946. Setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia dibebaskan setelah selesai KMB. Tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan '45 dan menjadi Wakil Cendekiawan
Sebenarnya Sayuti dikenal sebagai pendukung Sukarno. Namun, ketika Bung Karno berkuasa, Sayuti justru tak "terpakai". Dalam suasana gencar-gencarnya memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme). Ia mengusulkan mengganti Nasakom menjadi Nasasos, dengan mengganti unsur "kom" menjadi "sos" (sosialisme). Ia juga menentang pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS. Tulisannya, Belajar Memahami Sukarnoisme dimuat di sekitar 50 koran dan majalah dan kemudian dilarang. Artikel bersambung itu menjelaskan perbedaan Marhaenisme ajaran Bung Karno dan Marxisme-Leninisme doktrin PKI. Ketika itu Sayuti melihat PKI hendak membonceng kharisma Bung Karno.
Setelah Orde Baru nama Sayuti berkibar lagi di kancah politik. Ia menjadi anggota DPR/MPR, mewakili Golkar hasil Pemilu 1971 dan Pemilu 1977.
Sayuti Melik meninggal pada tanggal 27 Februari 1989 setelah setahun sakit, dan dimakamkan di TMP Kalibata
Sayuti Melik menerima Bintang Mahaputra Tingkat V (1961) dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputra Adipradana (II) dari Presiden Soeharto (1973).