Jumat, 30 November 2012
Guru...
GURU = digugu lan ditiru.guru adalah pengganti orang tua di sekolah. yang menjadi penanggung jawab diri kita ketika di sekolah. yang mau membagi ilmu mereka pada kita :-)
Rabu, 14 November 2012
Minggu, 28 Oktober 2012
An Article About Parents
Papa…
Sosok yang tak akan pernah bisa tergantikan
oleh siapapun. Yang bertanggungjawab penuh pada istri dan anak-anaknya. Yang
selalu bersikap jantan, gagah, dan berani mengambil risiko besar untuk
memperjuangkan keluarganya agar tetap utuh dan bahagia. Yang selalu membela
istri dan anak-anaknya ketika difitnah dan dituduh oleh orang lain. Yang mau
melakukan apapun demi istri dan anak-anaknya asalkan mereka nyaman dalam
peluknya. Yang selalu meluangkan waktunya untuk istri dan anak-anaknya. Yang
mau bersusah payah membanting tulang dari pagi hingga sore bahkan sampai malam
demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas. Yang rela berkorban untuk keselamatan
istri dan anak-anaknya meskipun yang harus jadi taruhannya adalah nyawanya
sendiri. Yang mau menanggung malu ketika istri dan anak-anaknya berbuat salah
pada orang lain. Yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan istri dan
anak-anaknya. Dan…masih banyak lagi kelebihan papa di mataku.
Ketika aku berbuat salah, ia marah. Tapi ia
selalu mau memaafkan aku. Ketika aku sakit, ia merawat dan membelikanku obat
agar aku cepat sembuh. Ketika aku bahagia, ia bertanya, “apa yang membuatmu
bahagia?”, lalu aku menjawab, “karena seharian ini aku melihat papa di rumah”.
Ia pun tersenyum. Ketika aku bersedih dan menangis, ia bertanya, “mengapa kau
bersedih dan menangis?”, lalu aku menjawab, “mengapa papa mau menerimaku?
padahal aku banyak berbuat salah dan sering membuat papa sakit hati hingga papa
marah..”. papa hanya tersenyum dan berkata, “karena kau anakku”. Kupeluk erat
tubuhnya. Ketika aku meminta uang untuk membayar uang sekolah, seketika itu
juga papa menundukkan kepala dan berkata, “kalau papa bayar besok saja
bagaimana? papa sedang tak ada uang”. Aku mengerti. Lalu aku tersenyum dan
kujawab, “iya tak apa-apa, pa”. ketika aku terjatuh, ia adalah orang pertama
yang panik dan khawatir. Lalu ia memegang erat tanganku dan membantuku untuk
bangkit. Ketika aku pergi jauh untuk beberapa hari, ia selalu mengirim pesan
singkat bahkan meneleponku hanya untuk menanyakan “sedang apa? sampai dimana?
sudah makan? jangan lupa berdo’a ya… Tuhan memberkati”. Ketika aku terpuruk, ia
selalu memberiku motivasi agar aku mau bangkit dan tegar menghadapi setiap
persoalan. Ia selalu berkata, “ingat, kau masih punya Tuhan. DIA akan selalu
mendengar semua keluhanmu”.
Ketika mama sakit, papa yang harus bingung
mencari uang kemana agar mama dapat sembuh dan sehat lagi. Ketika mama marah,
papa selalu berusaha untuk menenangkan hati mama. Papa tak pernah punya niat
untuk melukai hati mama sedikitpun. Ketika mama benar-benar harus dirawat di
rumah sakit untuk kesekian kalinya hingga masuk ruang ICU, papa selalu bersedia
untuk menemaninya. Papa tak pernah punya niat untuk meninggalkan mama. Ia setia
menemani dan menunggu mama hingga sembuh. Meskipun mama sering membuat papa
jengkel, tapi papa selalu memaafkan dan mengampuni mama. Papa selalu
menyayangi, mencintai dan mengasihi mama. Bagi papa, mama adalah wanita yang
sempurna, cinta mama pada papa begitu sempurna.
Mama…
Wanita yang selalu bisa membuat papa bahagia
dan nyaman di dekatnya. Wanita nomor satu di hati papa. Wanita yang menjadi
prioritas utama dalam hidup papa.
Namun…
Kini papa hanya bisa mengenang semua tentang
kisah cinta mereka… semua tentang mama. Kekasih hatinya yang selalu ia cintai
dan sayangi.
Mama pergi…pergi untuk selamanya… meninggalkan
papa, aku dan kelima saudara kandungku. Tapi papa tetap tegar dan berusaha
menerima kenyataan. Kenyataan bahwa mama, kekasihnya, pergi meninggalkan dia.
Itu kehendak Tuhan. Tuhan menyayangi mama, sehingga DIA memanggil mama kembali
pada-NYA. Ya… itu memang yang terbaik untuk kami, terlebih untuk mama. Kasihan
jika mama hidup di dunia tapi menderita atas penyakitnya. Lebih baik mama pergi
dan duduk di samping Allah Bapa di sorga dan melihat suami serta ketujuh
anaknya di dunia. Mama tidak pergi jauh karena mama selalu ada di hati kami.
Sampai kapanpun. Tuhan tahu apa yang DIA lakukan atas kami. Dan apapun yang DIA
lakukan, semua karena DIA mengasihi keluargaku. Terlebih untuk papa :)
Jumat, 14 September 2012
ENERGI ALTERNATIF - BIOGAS
Biogas merupakan
gas yang dihasilkan oleh aktivitas
anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk
diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah
tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik
yang biodegradabledalam kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas
adalah metana dan karbon dioksida.
Biogas dapat digunakan
sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.Biogas
yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan
untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat
dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume
limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih
daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi
karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting
dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kacayang lebih
berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon
dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari
atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke
atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer bila dibandingkan dengan
pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak
negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari limbah
cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi
mekanis pada tempat pengolahan limbah.
BANDUNG: Pemanfaatan
energi alternatif seperti biogas di Jawa Barat masih sangat rendah, terutama di
kalangan peternak sapi yang populasinya mencapai 27.200 ekor.
Kepala Dinas Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat Jerry Yanuar mengatakan pemanfaatan
potensi biogas di Jabar baru 20% dari potensi yang ada yang dipicu mayoritas
peternak sapi masih belum merasa butuh akan penggunaan energi alternatif.
"Kami akan
mengajak instansi seperti Dinas Peternakan agar mendorong para peternak mau
memanfaatkan limbah kotoran sapi ini sebagai energi alternatif yang bisa
menghemat pengeluaran mereka," kata Jerry kepada Bisnis, hari ini.
Menurutnya, pada tahun
ini pihaknya menargetkan penambahan pemanfaatan biogas sebanyak 182 unit untuk
masyarakat yang menjadi sentra peternakan sapi seperti kawasan Bandung Utara.
Dia menjelaskan setiap
dua ekor sapi bisa menghasilkan 50kg kotoran sapid an bisa menghasilkan
satu meter kubik gas pengganti jenset.
Keberadaan energi
alternatif menjadi konsekuensi logis mengingat penduduk Jabar saat ini sudah
mencapai 43 juta jiwa. Terlebih pada 2025, diprediksi penduduk Jabar akan
menjadi 52 juta jiwa dengan 83% diantaranya akan tinggal di perkotaan.
"Itu artinya akan
terjadi peningkatan yang tajam di sektor industri dan permukiman sehingga
kebutuhan energi alternatif menjadi mendesak," ujarnya.
Secara empiris, Jabar
memiliki banyak persoalan energi yang harus dihadapi. Untuk itu, energi
berbasis regional dan lokal yang ada di setiap wilayah harus dieksplorasi baik
oleh Dinas ESDM maupun lembaga lainnya.
"Kami sudah
memetakan potensi biogas yang ada di setiap daerah, serta potensi alam yang
bisa dikembangkan mikro hidro dan panas bumi yang membutuhkan investasi tidak
sedikit," ujarnya.
Dia menambahkan
pihaknya juga berencana memanfaatkan keberadaan septic tank komunal yang
menghasilkan tinja manusia dengan gas metan yang tinggi. Pada dasarnya, kotoran
sapi dan manusia tidak ada bedanya.
Sementara itu, Ketua
Gabungan Koperasi Susu Indonesia Jawa Barat Dedi Setiadi mengatakan minimnya
jumlah petani yang memanfaatkan kotoran sapi sebagai biogas lebih disebabkan
terbenturnya dana pengadaan alat untuk pengubah energi kotoran sapi.
Menurut dia, untuk
membeli satu alat biogas dengan kapasitas 6 meter kubik petani harus merogoh
kocek Rp6,5 juta.
Selain itu, peternak
tidak memiliki banyak lahan untuk digunakan sebagai penampung kotoran sapi
hingga dikonversi menjadi listrik, untuk kemudian dialirkan ke rumah tangga.
“Pada prinsipnya, kami
mendorong petani untuk membuat biogas agar limbah kotoran sapi tidak menjadi
sumber pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Sebelumnya, Pemkot
Bandung melayangkan protes terkait pencemaran limbah kotoran sapi dan sampah di
hulu Sungai Cikapundung yang dijadikan sumber air PDAM Kota Bandung.
PDAM Tirtawening Kota
Bandung hingga saat ini masih terkendala dalam mengelola air baku di lokasi
penangkap (intake) Bantar Awi, lantaran sampah dan limbah kotoran sapi yang
dihasilkan masyarakat dan peternakan di bagian utara Sungai Cikapundung.
Kendala itu terjadi
sejak beberapa tahun terakhir dan mengakibatkan menurunnya kualitas air baku
yang akan diolah.(api).
Selasa, 21 Agustus 2012
Pahlawan Indonesia
SAYUTI MELIK
Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti
Melik, dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai pengetik naskah
proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Dia adalah suami dari Soerastri Karma Trimurti,
seorang wartawati dan aktifis perempuan di jaman pergerakan dan jaman setelah
kemerdekaan. Dilahirkan pada tanggal 22 November 1908, anak dari Abdul Mu'in
alias Partoprawito, bekel jajar atau kepala desa di Sleman, Yogyakarta. Sedang
ibunya bernama Sumilah. Pendidikan dimulai dari Sekolah Ongko Loro (Setingkat
SD) di desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di
Yogyakarta.
Nasionalisme sudah sejak kecil ditanamkan oleh ayahnya kepada
Sayuti kecil. Ketika itu ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda
yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.
Ketika belajar di sekolah guru di Solo,
1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink. Pada usia
belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak
pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu
banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk
menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.
Tulisan-tulisannya
mengenai politik menyebabkan ia ditahan berkali-kali oleh Belanda. Pada tahun
1926 ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933). Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun. Setelah diusir dari
wilayah Inggris ditangkap kembali oleh Belanda dan dibawa ke Jakarta,
dimasukkan sel di Gang Tengah (1937-1938).
Sepulangnya
dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan SK Trimurti, dan terlibat dalam
berbagai kegiatan pergerakan secara bersama. Akhirnya pada 19 Juli 1938 mereka
menikah.
Pada tahun
itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu
dengan tiras 2 ribu eksemplar. Karena penghasilannya masih kecil, pasangan
suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga
urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.
Trimurti dan
Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik
tajam pemerintah Hindia Belanda. Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang
dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).
Pada jaman
pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti
sebagai orang komunis.
Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat
Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara,
dan Kiai Mas Mansoer. Saat itu Soekarno meminta
pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk
bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat
Seluruh Jawa. Dan lalu
Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram. Sayuti terus berada di
sisi Bung Karno
Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (PPKI)
dibentuk 7 Agustus 1945 dan diketuai oleh Ir. Soekarno, menggantikan Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibubarkan cepat. Anggota awalnya adalah
21 orang. Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah 6 orang
termasuk didalamnya Sayuti Melik.
Sayuti Melik
termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan
Sukarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945 (Peristiwa Rengasdengklok). Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Soekarno
(bersama Fatmawati
dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan
Hatta, ke Rengasdengklok.
Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh
Jepang
Di sini,
mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang
telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda,
Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad
Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta maka
diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka
menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad
Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu - buru
memproklamasikan kemerdekaanKonsep naskah proklamasi
disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Wakil para pemuda, Sukarni dan
Sayuti Melik. Masing-masing sebagai pembantu Bung Hatta dan Bung Karno, ikut
menyaksikan peristiwa tersebut. Setelah selesai, dinihari 17 Agustus 1945,
konsep naskah proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin. Namun, para
pemuda menolaknya. Naskah proklamasi itu dianggap seperti dibuat oleh Jepang.
Dalam suasana tegang itu, Sayuti memberi gagasan, yakni agar
teks proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa
Indonesia. Usulnya diterima
dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah
kalimat "Wakil-wakil bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa
Indonesia".
Setelah
Indonesia Merdeka ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada tahun 1946 atas
perintah Mr. Amir Syarifudin, ia ditangkap oleh Pemerintah RI karena dianggap sebagai orang dekat Persatuan
Perjuangan serta dianggap bersekongkol dan turut terlibat dalam
"Peristiwa 3 Juli 1946. Setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia
dinyatakan tidak bersalah. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II, ia ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia dibebaskan setelah selesai KMB. Tahun 1950 ia diangkat menjadi
anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan '45 dan menjadi Wakil
Cendekiawan
Sebenarnya
Sayuti dikenal sebagai pendukung Sukarno. Namun, ketika Bung Karno berkuasa,
Sayuti justru tak "terpakai". Dalam suasana gencar-gencarnya
memasyarakatkan Nasakom, dialah orang yang berani menentang gagasan Nasakom (nasionalisme, agama, komunisme).
Ia mengusulkan mengganti Nasakom menjadi Nasasos, dengan mengganti unsur
"kom" menjadi "sos" (sosialisme). Ia juga menentang
pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS. Tulisannya, Belajar
Memahami Sukarnoisme dimuat di sekitar 50 koran dan majalah dan kemudian
dilarang. Artikel bersambung itu menjelaskan perbedaan Marhaenisme ajaran Bung Karno dan Marxisme-Leninisme doktrin PKI. Ketika itu Sayuti melihat PKI
hendak membonceng kharisma Bung Karno.
Setelah Orde Baru nama Sayuti berkibar lagi di kancah
politik. Ia menjadi anggota DPR/MPR, mewakili Golkar hasil Pemilu 1971 dan Pemilu 1977.
Sayuti Melik
meninggal pada tanggal 27 Februari 1989 setelah setahun sakit, dan dimakamkan
di TMP Kalibata
Sayuti Melik menerima Bintang Mahaputra Tingkat V (1961) dari
Presiden Soekarno dan Bintang
Mahaputra Adipradana (II) dari Presiden Soeharto (1973).
Langganan:
Komentar (Atom)