~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~WELCOME~

Minggu, 28 Oktober 2012

An Article About Parents


Papa…
Sosok yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Yang bertanggungjawab penuh pada istri dan anak-anaknya. Yang selalu bersikap jantan, gagah, dan berani mengambil risiko besar untuk memperjuangkan keluarganya agar tetap utuh dan bahagia. Yang selalu membela istri dan anak-anaknya ketika difitnah dan dituduh oleh orang lain. Yang mau melakukan apapun demi istri dan anak-anaknya asalkan mereka nyaman dalam peluknya. Yang selalu meluangkan waktunya untuk istri dan anak-anaknya. Yang mau bersusah payah membanting tulang dari pagi hingga sore bahkan sampai malam demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas. Yang rela berkorban untuk keselamatan istri dan anak-anaknya meskipun yang harus jadi taruhannya adalah nyawanya sendiri. Yang mau menanggung malu ketika istri dan anak-anaknya berbuat salah pada orang lain. Yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan istri dan anak-anaknya. Dan…masih banyak lagi kelebihan papa di mataku.
Ketika aku berbuat salah, ia marah. Tapi ia selalu mau memaafkan aku. Ketika aku sakit, ia merawat dan membelikanku obat agar aku cepat sembuh. Ketika aku bahagia, ia bertanya, “apa yang membuatmu bahagia?”, lalu aku menjawab, “karena seharian ini aku melihat papa di rumah”. Ia pun tersenyum. Ketika aku bersedih dan menangis, ia bertanya, “mengapa kau bersedih dan menangis?”, lalu aku menjawab, “mengapa papa mau menerimaku? padahal aku banyak berbuat salah dan sering membuat papa sakit hati hingga papa marah..”. papa hanya tersenyum dan berkata, “karena kau anakku”. Kupeluk erat tubuhnya. Ketika aku meminta uang untuk membayar uang sekolah, seketika itu juga papa menundukkan kepala dan berkata, “kalau papa bayar besok saja bagaimana? papa sedang tak ada uang”. Aku mengerti. Lalu aku tersenyum dan kujawab, “iya tak apa-apa, pa”. ketika aku terjatuh, ia adalah orang pertama yang panik dan khawatir. Lalu ia memegang erat tanganku dan membantuku untuk bangkit. Ketika aku pergi jauh untuk beberapa hari, ia selalu mengirim pesan singkat bahkan meneleponku hanya untuk menanyakan “sedang apa? sampai dimana? sudah makan? jangan lupa berdo’a ya… Tuhan memberkati”. Ketika aku terpuruk, ia selalu memberiku motivasi agar aku mau bangkit dan tegar menghadapi setiap persoalan. Ia selalu berkata, “ingat, kau masih punya Tuhan. DIA akan selalu mendengar semua keluhanmu”.
Ketika mama sakit, papa yang harus bingung mencari uang kemana agar mama dapat sembuh dan sehat lagi. Ketika mama marah, papa selalu berusaha untuk menenangkan hati mama. Papa tak pernah punya niat untuk melukai hati mama sedikitpun. Ketika mama benar-benar harus dirawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya hingga masuk ruang ICU, papa selalu bersedia untuk menemaninya. Papa tak pernah punya niat untuk meninggalkan mama. Ia setia menemani dan menunggu mama hingga sembuh. Meskipun mama sering membuat papa jengkel, tapi papa selalu memaafkan dan mengampuni mama. Papa selalu menyayangi, mencintai dan mengasihi mama. Bagi papa, mama adalah wanita yang sempurna, cinta mama pada papa begitu sempurna.
Mama…
Wanita yang selalu bisa membuat papa bahagia dan nyaman di dekatnya. Wanita nomor satu di hati papa. Wanita yang menjadi prioritas utama dalam hidup papa.
Namun…
Kini papa hanya bisa mengenang semua tentang kisah cinta mereka… semua tentang mama. Kekasih hatinya yang selalu ia cintai dan sayangi.
Mama pergi…pergi untuk selamanya… meninggalkan papa, aku dan kelima saudara kandungku. Tapi papa tetap tegar dan berusaha menerima kenyataan. Kenyataan bahwa mama, kekasihnya, pergi meninggalkan dia. Itu kehendak Tuhan. Tuhan menyayangi mama, sehingga DIA memanggil mama kembali pada-NYA. Ya… itu memang yang terbaik untuk kami, terlebih untuk mama. Kasihan jika mama hidup di dunia tapi menderita atas penyakitnya. Lebih baik mama pergi dan duduk di samping Allah Bapa di sorga dan melihat suami serta ketujuh anaknya di dunia. Mama tidak pergi jauh karena mama selalu ada di hati kami. Sampai kapanpun. Tuhan tahu apa yang DIA lakukan atas kami. Dan apapun yang DIA lakukan, semua karena DIA mengasihi keluargaku. Terlebih untuk papa :)