Papa…
Sosok yang tak akan pernah bisa tergantikan
oleh siapapun. Yang bertanggungjawab penuh pada istri dan anak-anaknya. Yang
selalu bersikap jantan, gagah, dan berani mengambil risiko besar untuk
memperjuangkan keluarganya agar tetap utuh dan bahagia. Yang selalu membela
istri dan anak-anaknya ketika difitnah dan dituduh oleh orang lain. Yang mau
melakukan apapun demi istri dan anak-anaknya asalkan mereka nyaman dalam
peluknya. Yang selalu meluangkan waktunya untuk istri dan anak-anaknya. Yang
mau bersusah payah membanting tulang dari pagi hingga sore bahkan sampai malam
demi mendapatkan beberapa lembar uang kertas. Yang rela berkorban untuk keselamatan
istri dan anak-anaknya meskipun yang harus jadi taruhannya adalah nyawanya
sendiri. Yang mau menanggung malu ketika istri dan anak-anaknya berbuat salah
pada orang lain. Yang mau menerima segala kekurangan dan kelebihan istri dan
anak-anaknya. Dan…masih banyak lagi kelebihan papa di mataku.
Ketika aku berbuat salah, ia marah. Tapi ia
selalu mau memaafkan aku. Ketika aku sakit, ia merawat dan membelikanku obat
agar aku cepat sembuh. Ketika aku bahagia, ia bertanya, “apa yang membuatmu
bahagia?”, lalu aku menjawab, “karena seharian ini aku melihat papa di rumah”.
Ia pun tersenyum. Ketika aku bersedih dan menangis, ia bertanya, “mengapa kau
bersedih dan menangis?”, lalu aku menjawab, “mengapa papa mau menerimaku?
padahal aku banyak berbuat salah dan sering membuat papa sakit hati hingga papa
marah..”. papa hanya tersenyum dan berkata, “karena kau anakku”. Kupeluk erat
tubuhnya. Ketika aku meminta uang untuk membayar uang sekolah, seketika itu
juga papa menundukkan kepala dan berkata, “kalau papa bayar besok saja
bagaimana? papa sedang tak ada uang”. Aku mengerti. Lalu aku tersenyum dan
kujawab, “iya tak apa-apa, pa”. ketika aku terjatuh, ia adalah orang pertama
yang panik dan khawatir. Lalu ia memegang erat tanganku dan membantuku untuk
bangkit. Ketika aku pergi jauh untuk beberapa hari, ia selalu mengirim pesan
singkat bahkan meneleponku hanya untuk menanyakan “sedang apa? sampai dimana?
sudah makan? jangan lupa berdo’a ya… Tuhan memberkati”. Ketika aku terpuruk, ia
selalu memberiku motivasi agar aku mau bangkit dan tegar menghadapi setiap
persoalan. Ia selalu berkata, “ingat, kau masih punya Tuhan. DIA akan selalu
mendengar semua keluhanmu”.
Ketika mama sakit, papa yang harus bingung
mencari uang kemana agar mama dapat sembuh dan sehat lagi. Ketika mama marah,
papa selalu berusaha untuk menenangkan hati mama. Papa tak pernah punya niat
untuk melukai hati mama sedikitpun. Ketika mama benar-benar harus dirawat di
rumah sakit untuk kesekian kalinya hingga masuk ruang ICU, papa selalu bersedia
untuk menemaninya. Papa tak pernah punya niat untuk meninggalkan mama. Ia setia
menemani dan menunggu mama hingga sembuh. Meskipun mama sering membuat papa
jengkel, tapi papa selalu memaafkan dan mengampuni mama. Papa selalu
menyayangi, mencintai dan mengasihi mama. Bagi papa, mama adalah wanita yang
sempurna, cinta mama pada papa begitu sempurna.
Mama…
Wanita yang selalu bisa membuat papa bahagia
dan nyaman di dekatnya. Wanita nomor satu di hati papa. Wanita yang menjadi
prioritas utama dalam hidup papa.
Namun…
Kini papa hanya bisa mengenang semua tentang
kisah cinta mereka… semua tentang mama. Kekasih hatinya yang selalu ia cintai
dan sayangi.
Mama pergi…pergi untuk selamanya… meninggalkan
papa, aku dan kelima saudara kandungku. Tapi papa tetap tegar dan berusaha
menerima kenyataan. Kenyataan bahwa mama, kekasihnya, pergi meninggalkan dia.
Itu kehendak Tuhan. Tuhan menyayangi mama, sehingga DIA memanggil mama kembali
pada-NYA. Ya… itu memang yang terbaik untuk kami, terlebih untuk mama. Kasihan
jika mama hidup di dunia tapi menderita atas penyakitnya. Lebih baik mama pergi
dan duduk di samping Allah Bapa di sorga dan melihat suami serta ketujuh
anaknya di dunia. Mama tidak pergi jauh karena mama selalu ada di hati kami.
Sampai kapanpun. Tuhan tahu apa yang DIA lakukan atas kami. Dan apapun yang DIA
lakukan, semua karena DIA mengasihi keluargaku. Terlebih untuk papa :)